Makan Banyak tapi Tetap Kurus? Ini Kemungkinan Penyebabnya

Pernahkah kamu merasa iri pada teman atau keluarga yang bisa makan seporsi nutup, camilan terus, tapi berat badannya tidak pernah naik? Di sisi lain, ada juga yang hanya melihat makanan manis saja sudah khawatir timbangan akan naik. Fenomena “makan banyak tapi tetap kurus” memang sering menjadi perbincangan. Banyak yang menganggap itu adalah keberuntungan semata, padahal di balik tubuh kurus yang tampak “ideal” tersebut, ada berbagai faktor yang memengaruhinya.
Apakah kondisi ini selalu menandakan tubuh yang sehat? Belum tentu. Bisa jadi itu adalah hasil dari metabolisme yang memang tinggi, tetapi bisa juga merupakan sinyal adanya gangguan kesehatan. Mari kita bahas beberapa kemungkinan penyebab mengapa seseorang bisa makan dalam jumlah banyak namun tetap memiliki tubuh kurus.
1. Metabolisme Tubuh yang Tinggi
Setiap orang memiliki tingkat metabolisme basal (BMR) yang berbeda. Metabolisme basal adalah jumlah kalori yang dibakar tubuh saat sedang istirahat total, hanya untuk menjaga organ-organ vital tetap berfungsi. Orang dengan metabolisme tinggi cenderung membakar energi lebih cepat meskipun tidak melakukan aktivitas berat.
Metabolisme ini dipengaruhi oleh beberapa hal:
• Usia: Anak-anak dan remaja biasanya memiliki metabolisme lebih tinggi karena tubuh sedang dalam masa pertumbuhan.
• Jenis kelamin: Pria umumnya memiliki massa otot lebih banyak, sehingga metabolisme basalnya lebih tinggi dibanding wanita.
• Faktor genetik: Jika kedua orang tua kamu memiliki tubuh kurus dengan metabolisme cepat, kemungkinan besar kamu mewarisi sifat tersebut.
Seseorang dengan metabolisme tinggi bisa makan dalam porsi besar, tetapi kalori yang masuk cepat terbakar sehingga berat badan sulit naik.
2. Aktivitas Fisik yang Tinggi Tanpa Disadari
Kadang kita tidak sadar seberapa banyak energi yang keluar setiap hari. Seseorang yang pekerjaannya banyak bergerak seperti pelayan restoran, pekerja bangunan, atau ibu rumah tangga yang sibuk bisa membakar ribuan kalori hanya dari rutinitas harian tanpa perlu olahraga tambahan.
Selain itu, ada istilah NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis), yaitu pembakaran energi dari aktivitas non-olahraga seperti berjalan kaki, naik tangga, atau sekadar gelisah. Orang yang cenderung aktif secara spontan (sering bergerak, tidak bisa diam) bisa membakar kalori hingga 500–1000 kalori lebih banyak per hari dibanding mereka yang lebih banyak duduk. Akibatnya, meskipun makannya banyak, kalori yang keluar juga sebanding atau bahkan lebih besar.
3. Faktor Genetik dan Tipe Tubuh
Genetika memegang peran besar dalam menentukan bentuk tubuh seseorang. Dalam ilmu kesehatan, dikenal tiga tipe tubuh dasar:
• Ektomorf: Bertubuh ramping, bahu sempit, sulit menambah berat badan meskipun makan banyak.
• Mesomorf: Berotot alami, mudah membentuk otot dan mengatur berat badan.
• Endomorf: Cenderung mudah menyimpan lemak dan sulit menurunkan berat badan.
Jika kamu termasuk tipe ektomorf, maka tubuh kamu memang secara alami “hemat” dalam menyimpan lemak dan cenderung cepat membakar kalori. Ini bukan sesuatu yang salah, hanya variasi normal dari keragaman manusia.
4. Kurangnya Penyerapan Nutrisi (Malabsorpsi)
Ada kalanya seseorang makan banyak tetapi tubuh tidak mampu menyerap nutrisi secara optimal. Kondisi ini disebut malabsorpsi. Beberapa gangguan yang dapat menyebabkan malabsorpsi antara lain:
• Penyakit celiac: Alergi terhadap gluten yang merusak usus halus.
• Intoleransi laktosa: Tubuh tidak bisa mencerna laktosa dalam susu sehingga makanan tidak terserap sempurna.
• Penyakit Crohn atau kolitis ulserativa: Peradangan kronis pada saluran pencernaan.
• Infeksi parasit cacing: Meskipun jarang di perkotaan, infeksi cacing masih ditemukan di beberapa daerah dan menyebabkan nutrisi makanan “diambil” oleh parasit.
Pada kondisi ini, meskipun porsi makan banyak, berat badan justru bisa turun atau sulit naik, disertai gejala lain seperti diare kronis, perut kembung, atau feses yang berminyak.
5. Gangguan Hormon
Hormon adalah pengatur utama metabolisme. Ketidakseimbangan hormon dapat menyebabkan berat badan sulit naik meskipun nafsu makan besar. Beberapa gangguan hormonal yang sering menjadi penyebab:
• Hipertiroidisme: Kelenjar tiroid terlalu aktif sehingga memproduksi hormon tiroid berlebih. Akibatnya, metabolisme tubuh menjadi sangat cepat. Penderita hipertiroid biasanya merasa lapar terus, mudah berkeringat, jantung berdebar, dan berat badan menurun drastis.
• Diabetes tipe 1: Pada diabetes tipe 1 yang tidak terkontrol, tubuh tidak bisa menggunakan glukosa sebagai energi karena kekurangan insulin. Akibatnya, sel-sel tubuh “kelaparan” meskipun kadar gula darah tinggi. Penderita sering merasa sangat lapar, banyak makan, tetapi berat badan justru turun.
• Kelenjar adrenal yang kurang aktif (penyakit Addison): Kondisi langka ini menyebabkan penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan, meskipun pada beberapa kasus bisa juga dikaitkan dengan malabsorpsi.
Jika kamu merasa makan banyak tetapi berat badan terus turun tanpa sebab yang jelas, disertai gejala seperti lemas, detak jantung tidak normal, atau sering buang air kecil, sebaiknya segera periksakan ke dokter.
6. Faktor Psikologis dan Stres
Stres kronis dapat memengaruhi berat badan dengan dua cara: ada yang makan berlebihan karena stres, ada pula yang justru kehilangan nafsu makan atau metaboliknya melonjak. Hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dapat meningkatkan pembakaran energi dan menekan rasa lapar pada sebagian orang.
Selain itu, gangguan kecemasan atau depresi juga bisa menyebabkan perubahan pola makan dan penyerapan nutrisi. Pada kondisi tertentu, seseorang mungkin tampak “makan banyak” di depan orang lain, tetapi sebenarnya tidak menghabiskan makanan atau sengaja membuangnya secara diam-diam ini bisa menjadi tanda gangguan makan seperti bulimia nervosa.
7. Efek Samping Obat-obatan
Beberapa jenis obat dapat memengaruhi berat badan. Obat-obatan seperti stimulan (untuk ADHD), obat kemoterapi, atau antiretroviral untuk HIV dapat menurunkan nafsu makan atau mempercepat metabolisme. Sebaliknya, ada juga obat yang justru membuat berat badan naik. Jika kamu sedang menjalani pengobatan tertentu dan mengalami penurunan berat badan yang tidak diinginkan, konsultasikan dengan dokter.
Kapan Harus Khawatir?
Memiliki tubuh kurus meskipun makan banyak tidak selalu berarti ada masalah. Selama berat badan stabil, kamu merasa bugar, energi cukup, dan tidak ada keluhan kesehatan, kemungkinan itu hanyalah kondisi alami tubuh kamu.
Namun, waspadai jika penurunan berat badan terjadi tanpa sengaja (tidak sedang diet) dan disertai tanda-tanda berikut:
• Berat badan turun lebih dari 5% dalam waktu 6–12 bulan tanpa sebab.
• Kelelahan ekstrem.
• Demam berkepanjangan.
• Perubahan kebiasaan buang air besar (diare kronis atau sembelit).
• Nyeri perut yang tidak kunjung reda.
• Jantung berdebar-debar atau tremor.
Jika kamu mengalami gejala-gejala tersebut, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis. Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik, tes darah, dan pemeriksaan penunjang lainnya untuk mengetahui penyebab pastinya.
Kesimpulan
“Makan banyak tapi tetap kurus” bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari metabolisme tinggi, aktivitas fisik yang padat, faktor genetik, hingga kondisi medis seperti gangguan penyerapan nutrisi atau penyakit hormonal. Tidak semua penyebab berbahaya, tetapi tidak semuanya juga bisa dianggap “beruntung”.
Yang terpenting adalah mengenali tubuh sendiri. Jika berat badan stabil dan kesehatan umum baik, nikmati saja keunikan metabolisme kamu. Namun jika ada penurunan berat badan drastis tanpa sebab yang jelas atau disertai gejala lain, segera cari bantuan medis. Tubuh yang kurus belum tentu sehat; yang sehat adalah tubuh yang berfungsi optimal, terlepas dari bentuk fisiknya.
Semoga artikel ini membantu kamu lebih memahami kondisi “makan banyak tapi tetap kurus” dan bisa membedakan mana yang alami dan mana yang perlu diwaspadai.